Mengatasi Dilema, Wanita Karier vs Ibu Rumah Tangga

Meski zaman sekarang banyak orang yang tak lagi mempersoalkan gender, kenyataannya hal ini masih menjadi perbincangan. Apalagi soal peluang wanita yang sudah berkeluarga untuk bisa berkarier sesukses atau lebih sukses dari pasangannya.

Faktanya, baik pria maupun wanita memiliki kesempatan yang sama dalam mengenyam pendidikan yang kemudian dilanjutkan dengan berkarier. Biasanya, pria “diwajibkan” berkarier untuk menjadi tulang punggung keluarga, sedangkan wanita harus membuat keputusan terlebih dulu setelah menikah atau setelah memiliki anak.

“Mana yang lebih baik, melanjutkan berkarier atau menjadi ibu rumah tangga?” Dilema tersebut tampaknya tak akan pernah usai. Ketika seorang wanita menjadi seorang ibu, yang paling bijak memang tetap memprioritaskan pekerjaan sebagai ibu dan menomorduakan pekerjaan di luar itu.

Untuk wanita yang memutuskan tetap berkarier dibanding menjadi full-time mom, keputusan Anda juga tidak salah, kok. Menjadi ibu bekerja juga mengasyikkan dan penuh tantangan!

Kedua pilihan tersebut memiliki konsekuensi yang berbeda dan membutuhkan perencanaan tepat. Bagi beberapa orang, banyak hal yang harus dipertimbangkan, khususnya bersama pasangan.

Berikut ini empat pertimbangan yang harus dibicarakan dan disepakati:

  1. Tujuan berkarier

Apabila tujuannya adalah untuk mendapatkan tambahan penghasilan, maka berkarier adalah salah satu alternatif untuk stabilitas rumah tangga. Coba pertimbangkan dulu potensi penghasilan yang didapat, dan apakah hal tersebut setimpal dengan waktu yang dipakai untuk bekerja.

Akan lebih baik jika waktu bekerja tersebut masih memungkinkan Anda untuk melakukan tugas harian ibu rumah tangga. Misalnya untuk menyiapkan sarapan, mengantar anak sekolah, dan menyiapkan makan malam.

Jika tujuan berkarier lebih pada idealisme mengembangkan talenta atau meraih cita-cita, Anda harus berhati-hati agar tidak terlalu larut dalam obsesi. Pada akhirnya, tugas utama Anda sebagai seorang ibu sebaiknya bisa tetap terpenuhi.

Jika tercipta keseimbangan antara karier dan mengurus keluarga, ibu bekerja dapat menjadi panutan bagi anak, khususnya pandangan bahwa wanita tak selalu berada di posisi inferior.

  1. Kepala keluarga

Dampak psikologis pada ibu yang berkarier, apalagi bila kariernya lebih berhasil dibanding suami, adalah adanya dua dominasi di dalam keluarga. Hal ini dapat menjadi potensi perpecahan.

Hadirnya anak dapat memperparah kondisi ini. Karena itu, pembagian tanggung jawab harus jelas dan dilakukan secara konsisten.

  1. Waktu

Salah satu hal yang sulit dilakukan adalah membagi waktu. Kesibukan ayah dan ibu yang bekerja akan membuat waktu untuk dihabiskan dengan anak semakin sedikit.

Siapa yang menemani anak belajar? Siapa yang belanja bulanan? Siapa yang akan menyiapkan makan malam? Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa jadi akan terus terulang.

Tak hanya itu, menentukan waktu liburan keluarga pun menjadi lebih sulit karena harus saling menyesuaikan jadwal cuti. Untuk menghindari konflik, sebaiknya pembagian waktu ini harus disepakati sejak awal, dan tak lupa bersiap-siap jika ada kondisi yang mengharuskan Anda atau pasangan mengalah.

  1. Rekan Kerja

Ibu yang bekerja tentu akan memiliki rekan kerja, baik sesama maupun lawan jenis. Interaksi yang terjadi tak hanya di dalam, tetapi juga di luar kantor.

Lazimnya, akan selalu ada sahabat akrab yang pastinya terasa menyenangkan karena adanya sebuah suasana baru. Nah, membagi keseimbangan antara pekerjaan, sosialisasi dengan rekan kerja, dan keluarga akan menjadi masalah yang harus diantisipasi.

Tetapkan prioritas bersama pasangan. Jika pasangan merupakan pribadi pencemburu, sebaiknya Anda berhati-hati untuk tidak melanggar batas yang nantinya dapat memunculkan konflik yang tidak perlu.

Jadi, tak ada yang lebih salah atau lebih benar antara menjadi wanita karier atau ibu rumah tangga. Tapi tentu saja keduanya harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab berdasarkan kompromi dengan pasangan.

Ada lagi satu hal yang harus dimiliki dan dijaga baik oleh ibu rumah tangga maupun ibu bekerja: sebagai penopang kesehatan keluarga, keduanya harus sama-sama memprioritaskan kesehatan keluarga tanpa menomorduakan kesehatan dirinya. Cara-cara yang bisa dilakukan adalah dengan memiliki pola pikir dan pola hidup sehat, yang juga diimbangi dengan pola gerak tubuh yang cukup sebagai amunisi untuk menghindari penyakit-penyakit akibat kolesterol tinggi seperti jantung koroner dan strok.

Pria memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengalami peningkatan kadar kolesterol yang berlebih dan penyakit jantung koroner dibandingkan wanita. Hal ini karena wanita memiliki hormon estrogen yang punya fungsi protektif untuk menurunkan kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan kolesterol baik Meski demikian, hal ini tidak berarti bahwa wanita terbebas dari risiko tersebut. Faktanya, setelah wanita mengalami menopause yang menyebabkan penurunan produksi hormon estrogen, wanita akan kehilangan manfaat tersebut. Risiko naiknya kadar kolesterol jahat dan penyakit jantung koroner juga dapat meningkat jika wanita kurang aktif dan menjalani gaya hidup sedenter.

Oleh sebab itu, terlepas dari pilihan untuk berkarier atau menjalani keseharian sebagai ibu rumah tangga, seorang wanita harus tetap aktif setiap harinya dan menerapkan pola hidup sehat berupa mengonsumsi makanan bergizi dan mengonsumsi makanan yang mengandung plant stanol ester untuk menurunkan kadar kolesterol, dan menjalankan aktivitas fisik secara rutin, guna mencegah penyakit-penyakit akibat tingginya kolesterol.

Baik menjadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja, keduanya memiliki konsekuensi dan tantangannya masing-masing. Apapun pilihan Anda, pastikan untuk melibatkan pasangan sebelum membuat keputusan yang terbaik untuk Anda, pasangan, dan keluarga.

Sumber: www.klikdokter.com